Tintamerdeka.co.id, Serang – Komnas Perempuan menyayangkan peristiwa biadab yang menimpa korban perempuan Siti Marhatusholikhat usia (18 tahun) warga asal Kampung Cibuah Desa Cikeusal Kecamatan Cikeusal Kabupaten Serang.

“Jadi ini jangan dilihat sebagai tindak kriminal biasa karena ini tidak terlepas dari cara pandang yang merendahkan. (Laki-laki) melihat perempuan sebagai milik, merasa harus berkuasa sepenuhnya,” kata Komisioner Komnas Perempuan, Azriana, Jumat, 15 Desember 2017.

Dia menyatakan kasus ini merupakan kasus femicide atau pembunuhan berdimensi gender. Seorang lelaki membunuh perempuan karena sifat maskulin si lelaki merasa terganggu. “Ini yang kami sebut dengan pembunuhan perempuan yang berdimensi gender. Pembunuhan dilakukan sebagai ungkapan dari ketidaksukaan karena kekuasaan dari pada dominasi maskulinitas pelaku yang diganggu,” ujarnya dilansir detik.com.

Alasan lain, menurut Azriana, tersangka menganggap perempuan hanya sebagai objek. Hal itu membuat dia mamaksakan diri agar kehendaknya diterima oleh perempuan yang disukainya. “Laki-laki merasa kalau dia suka sama perempuan maka dia harus mau, harus menerima. Ini juga bagaimana dia memahami perempuan itu kan objek, dia tidak bisa menerima kalau peremuan menolak,” tuturnya.

Terkait pencegahan terulangnya peristiwa itu, dia menyebut seorang perempuan tidak boleh diam jika menerima kekerasan dari lawan jenisnya. Sebab tindakan pembunuhan biasanya disebabkan oleh tindak kekerasan yang juga sudah pernah terjadi sebelumnya.

“Jadi kami tidak diam ketika kami menerima kekerasan, harus kami ungkapkan atau kami laporkan, misalnya pasangan kami sudah mulai memukul itu kan tidak bisa didiamkan. Kadang-kadang tindakan pembunuhan seperti ini dikarenakan ada tindakan kekerasan sebelumnya yang diabaikan,” pungkasnya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here