Foto : Mahasiswa KKN Unma Banten saat melaporkan kondisi MDTA Al-Islah Situpotong, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang gedungnya memprihatinkan

Tintamerdeka.co.id Pandeglang – Mahasiswa Universitas Mathlaul Anwar (UNMA) Banten yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Cikeusik merasa miris dengan kondisi Sekolah Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Al-Islah Situpotong, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.

Keprihatinan yang tumbuh pada mahasiswa ini kendati melihat potret MDTA yang memiliki 4 ruang kelas tersebut hanya beratapkan asbes yang sudah tidak baik, dinding yang terbuat dari anyaman bambu pun mulai bolong-bolong karena lapuk, jendela kelas hanya menggunakan kawat yang sudah berkarat, sementara lantai kelas sudah retak-retak.

Sebelumnya Tintamerdeka.co.id  memberitakan pada Rabu malam, (17/07/2019). Kepala sekolah MDTA Al-Islah Situpotong, Amri (60) mengatakan, sejak didirikan pada 1998 sekolah tersebut belum tersentuh perehaban. Bukan tidak pernah berupaya mengajukan proposal bantuan ke Departemen Agama (Depag) Kabupaten Pandeglang. Tetapi sampai saat ini usahanya belum menemukan titik terang. Meski begitu diceritakan Amri, para murid tetap terlihat semangat walau harus belajar diatas meja dan kursi yang terbuat dari kayu berkualitas rendah.

Dia berharap, dengan kondisi sekolahnya itu, pemerintah dapat memberikan bantuan perehaban agar para muridnya dapat belajar dengan nyaman. Amri mengungkapkan, jumlah murid di MDTA Al-Islah Situpotong sebanyak 92 orang dengan 4 tenaga pengajar. Adapun honor para guru yakni sebesar Rp 50.000/ bulan. Honor itu didapat dari iuran SPP sejumlah Rp 4.000/ bulan dari per stau murid.

“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, ataupun Pemerintah Pusat. Sehingga kondisi sekolah yang tidak layak ini dapat segera direhab. Kami sudah mencoba mengajukan ke Depag, namun sampai saat ini belum ada bantuan yang turun,” ucapnya, Rabu (17/07/2019).

Baca Juga: Berdiri Sejak 1998, Gedung MDTA Al-Islah di Pandeglang Memprihatinkan

Selain itu, pada Kamis, (18/07/2019) disela-sela kunjungan Bupati Pandeglang Irna Narulita ke Kecamatan Cikeusik untuk menghadiri panen raya di Kampung Cicarigi. Mahasiswa Unma Banten bergagas menghampiri Bupati untuk melaporkan kondisi gedung MDTA Al-Islah yang dinilai memprihatinkan yang berdiri sejak tahun 1998 atau seumuran reformasi.

Bupati Pandeglang Irna sontak kaget mendapatkan informasi soal gedung MDTA di wilayah kabupaten yang dipimpinnya memprihatinkan dan perlu bantuan tersebut.

Irna juga langsung spontan menggelang dana untuk MDTA Al-Islah kepada para pejabat yang ikut rombongan dengannya. Karena Bupati menilai pihaknya tidak bisa memberikan bantuan melalui Pemkab Pandeglang persolan MDTA tersebut dikarenakan milik yayasan swasta.

“Ini madrasah apa namanya? Itu disebutin namanya, pulan bin pulan yang ikhlas ridha buat tabungan di akhirat” ucap Iran seusai menggalang dana para pejabat.

Ditempat yang sama, Winda Tri Mulyani mahasiswi Unma Banten mengaku senang dengan respon Bupati Pandeglang juga mengaku kecewa, Bupati melalui kebijakannya tidak bisa sepenuhnya membantu untuk membangun MDTA Al-Islah.

“Alhamdulilah Respon Bupati cepat dan langsung menggalang dana ketika melaporkan madsarah itu, tapi juga kami sedikit kecewa karena tidak bisa bantu sepenuhnya. Memang tadi ibu bupati memberikan bantuan uang tunai sejumlah Rp 500.000” keluh kesahnya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here